EKSPRESI CINTA

Manusia tak pernah terlepas dari yang namanya cinta. Walaupun begitu rumit untuk menyelami apa itu cinta, tapi cinta bisa dilihat dari setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh yang sedang dilanda cinta. Tapi bagaimana bila orang yang kita cintai tak mengerti ekspresi cinta dari kita?? Di bawah ini ada kisah mengenai hal itu, kisah ini diceritakan dari sudut pandang seorang wanita yang tidak mengerti ekspresi cinta dari pasangannya. Inilah kisah tersebut.

Kami berkenalan 5 tahun yang lalu pada acara pernikahan seorang teman lamaku. Dua tahun lamanya berpacaran, lalu kami memutuskan untuk menikah. Tahun ini genap sudah tiga tahun pernikahan kami dimana aku mulai merasakan suasana yang sangat berbeda di dalam diriku. Dulu setiap kali duduk berdekatan dengannya, aku merasakan kehangatan dan rasa aman yang begitu menyenangkan. Tetapi kini, entah bagaimana perasaan itu menghilang begitu saja.

Aku adalah wanita yang sangat sensitif, sentimentil dan berperasaan halus. Seperti anak yang menginginkan coklat, aku selalu mendambakan suasana romantis setiap saat, tetapi aku tidak mendapatkan itu dari suamiku. Dia adalah laki-laki yang kurang peka terhad apa yang aku rasakan dan harapkan darinya. Karena ketidakmampuannya menciptakan suasana romantis inilah, harapan-harapanku tentang kehidupan berumah tangga yang sangat menyenangkan, terbang begitu saja.

Entah dari mana datangnya keberanian dan kenekatanku, hari itu aku meminta cerai kepada suamiku. “Mengapa??” tanya suamiku dengan sangat terkejut. “Aku tidak mendapatkan apa yang aku harapkan darimu, kau tidak pernah mengerti perasaanku,” jawabku sambil menangis. Keputusan itu telah membuat suamiku tidak bisa berkonsentrasi sepanjang hari. Pada malam hari aku melihatnya termenung di meja kerjanya dan lagi-lagi aku menilainya sebagai laki-laki yang tidak bisa mengekspresikan perasaanya. Sikapnya yang suka diam membisu semakin membuatku semakin menolaknya. Akhirnya pertanyaan keluar juga dari mulutnya, “Apa yang harus kulakukan untuk mengubah keputusanmu?“Seandainya aku menginginkan setangkai bunga yang tumbuh di tebing gunung dan kita tahu bahwa setiap orang yang berusaha mendapatkan bunga tersebut pasti akan mati, apakah kau akan bersedia mengambilnya untukku??” kataku. Ia berjanji memberikan jawaban besok.

Pagi itu aku bangun agak kesiangan dan aku tidak melihat suamiku. Hanya ada segelas susu hangat di atas meja beserta selembar kertas berisi tulisan tangannya diletakkan di bawah gelas. “Isteriku tersayang, kamu seringkali menggerutu ketika alergi kulimu kumat dan aku harus memberikan kuku-kukuku untuk menggaruk punggungmu. Kamu seringkali nyasar ketika jalan-jalan di pusat perbelanjaan yang baru dan aku harus memberikan kakiku untuk berjalan mencarimu. Kamu selalu mengeluh karena pegal-pegal setiap kali habis jalan-jalan dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu. Kamu selalu kesepian dirumah ketika aku bekerja dan ketika pulang aku harus memberikan lidahku untuk berbagi cerita serta menghiburmu. Kamu selalu membaca sambil tiduran sehingga matamu menjadi rusak, tetapi aku harus memelihara mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih bisa menuntunmu ke kamar mandi. Tetapi, untuk mengambil bunga itu aku tidak sanggup, karena itu artinya aku harus mati. Sayangku, aku tidak mampu melihatmu menangis karena kematianku. Untuk itu, jika semua yang sudah aku berikan  tidaklah cukup bagimu, aku tidak pernah melarangmu untuk mencari laki-laki lain yang dapat membahagiakanmu. Kau sudah tahu jawabanku dan jika kau puas dengan jawabanku itu dan mengharapkan aku tinggal bersamamu, bukalah pintu untukku, aku menunggumu di depan pintu. Tetapi kalau kau tidak puas, kuncilah pintu dan biarkan aku pergi meninggalkanmu, Percayalah, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.”

Dengan air mata berlinang aku berlari membuka pintu dan aku melihat suamiku berdiri di sana sambil memegang roti kesukaanku. Aku sadar bahwa tidak ada orang yang lebih mencintaiku lebih dari dia mencintaiku. Yang aku butuhkan hanyalah memahami wujud cinta dari suamiku dan bukan mengharapkan wujud tertentu yang ada di benakku, karena cinta tidak selalu berwujud bunga nan semerbak, tetapi juga dapat berwujud pengorbanan yang memedihkan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s