” SING JUJUR BAKAL MUJUR”

 

          Kejujuran adalah harta yang sangat berharga. Ketekunan, tanggung jawab dan kejujuran adalah kunci-kunci kesuksesan. Tuhan tidak pernah membiarkan orang-orang yang jujur jatuh tergeletak. Seperti pepatah jawa yang mengatakan, “Wong sing jujur, uripe bakal mujur”. Seperti kisah berikut ini.

 

Yosafat adalah pemuda desa yang hidup dalam kesederhanaan. Keluarganya selalu mendidiknya dalam kasih dan takut akan Tuhan, melakukan perintah-perintah Tuhan.

Alkisah Raja Daud sedang bingung mencari seorang bendahara kerajaan. Raja Daud bertanya kepada penasihatnya, Nabi Gad.

Raja    : “Aku membutuhkan seorang Bendahara untuk kerajaan ini, bagaimana aku mendapatkan yang terbaik??”

Nabi    : “Untuk menjadi bendahara kerajaan, Baginda harus mencari orang yang jujur dan bertanggung jawab”

Raja    : “Bagaimana caranya??”

Nabi    : “Baginda, uang itu layaknya sebuah pohon yang harus dirawat dan dijaga. Jadi, buatlah sayembara untuk menemukan orang yang jujur dan bertanggung jawab.”

Raja    : “Baiklah, aku tahu caranya.” (berdiri) “Pengawal, panggilkan sekretaris kerajaan!!”

Pengawal : “Siap baginda.” (pergi keluar)

Sekretaris kerajaan datang

Sekretaris : “Baginda memanggil saya??”

Raja    : “Ya, umumkan ke seluruh negeri, aku mengadakan sayembara untuk mencari bendahara kerajaan.”

Sekretaris : “Daulat Tuanku..”

 

Sekretaris kerajaan segera pergi mengumumkan sayembara ke seluruh negeri. Keesokan harinya banyak sekali pemuda berkumpul di aula kerajaan.

Raja berkata : “Aku mencari seorang Bendahara kerajaan. Uang itu seperti pohon, jadi harus dirawat seperti pohon. Jika kalian ingain menjadi bendahara kerajaan, ambillah biji yang kusediakan dan rawatlah baik-baik. Pada waktu yang ditentukan, siapa yang menghasilkan tanaman yang kuinginkan, dialah yang akan menjadi bendahara kerajaan.

Para pemuda masing-masing mengambil satu biji dan membawanya pulang, demikian juga dengan Yosafat. Dia membawa biji itu pulang dan menanamnya dalam pot, disirami dan dipupuknya dengan tekun. Tapi tanaman itu tak kunjung tumbuh.

Besok adalah waktu yang telah ditentukan, tapi biji itu tetap belum tumbuh. Yosafat sedang bingung memandangi pot yang kosong itu.

Yosafat : “Kenapa kau tidak tumbuh bijiku??”

Ibu      : “Nak, Raja Daud pun tidak selalu menang dalam perang, namun ia tetap jadi raja pada akhirnya kan??”

Yosafat : “tapi bu, biji ini tidak tumbuh…”

Ibu      : “Apa yang membuatmu berfikir kau tidak akan menjadi orang penting hanya karena sebuah biji yang gagal tumbuh?? Tuhanlah yang menentukan hidup kita, bukan orang lain.”

Yosafat : “Lalu pot ini??”

Ibu      : “Bawalah menghadap raja besok.”

 

Keesokan harinya, di aula kerajaan banyak orang berkumpul membawa tanaman-tanaman indah dalam pot mereka. Ketika Yosafat datang membawa pot yang kosong, tertawalah semua orang yang melihatnya.

Pemuda 1 : “Hey Yosafat, apa yang kau bawa itu, apakah kepalamu juga kosong seperti isi pot mu itu?? Hahahahahaha…………….”

Pemuda 2 : “hahahaha…………….. Anak  bodoh pasti tidak bisa menumbuhkan biji itu, hahahaha……………..”

Yosafatpun semakin tertunduk mendengar perkataan itu. Mendadak semua hening ketika Baginda raja keluar.

Sekretaris : “Tuanku raja bertitah,setelah Tuanku melihat semua yang berkumpul disini, yang terpilih menjadi bendahara kerajaan adalah Yosafat bin Ahilud.

Semua menjadi terkejut sekaligus bingung mendengar pengumuman ini. Raja Daud pun tampil ke depan dan menjelaskan.

Raja    : “Semua tanaman disini memang indah, menunjukkan kalian sudah melakukan yang terbaik.tapi bukan itu yang aku inginkan, karena aku mengharapkan tak ada satu tanaman pun dalam pot itu. Kenapa tidak?? Karena biji yang kalian tanam adalah biji yang sudah direbus, bagaimana mungkin biji yang sudah direbus dapat tumbuh??”

Semua pun malu mendengarnya, karena diam-diam mereka semua telah menukar biji dari Raja dengan biji yang bisa tumbuh

Raja    : “Kemarilah nak, mulai sekarang aku mengangkat Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara kerajaanku.

Demikianlah Yosafat menjadi bendahara kerajaan karena dia jujur dan bertanggung jawab atas perbuatannya, dia juga berani mengambil resiko.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s