RODA NASIB

Orang-orang tua sering berkata, ”urip lan nasib iki kayadene roda, kadang neng ngisor, kadang neng nduwur. Sing neng ngisor ojo cilik ati, ono wektune bakalan ing nduwur, sing neng nduwur mesti ono wektune bakal neng ngisor.” Sekilas benar memang apa yang dikatakan oleh orang-orang tua tadi itu. Nasib dan perjalanan hidup dianalogikan selayaknya roda yang terus berputar. Satu titik mungkin saat ini sedang dibawah, namun titik yang lainnya sedang berada diatas. Namun dengan berputarnya roda, suatu saat titik itu akan bertukar posisi, yang bawah akan menjadi yang diatas, dan sebaliknya yang mulanya diatas menjadi dibawah. Memang sebuah pepatah yang sangat bagus dan memang sangat sangat bagus apabila bisa mengerti dan menghayati pepatah ini.
Sekarang saya akan berbicara dalam konteks lain. Kebenaran pepatah tadi adalah kebenaran bagi mereka yang dulu belum mengenal Tuhan. Saat ini, saya ingin berbicara dengan anak-anak Tuhan, apakah anda meyakini benar kebenaran pepatah ini? Saya tidak menyalahkan anda kalau anda sungguh meyakini kebenaran pepatah ini, karena hal itu telah ditanamkan oleh nenek moyang kita sampai doktrin orang tua kita yang mendidik kita seperti itu. Saya tidak ingin menyalahkan pepatah ini, sungguh tidak ada maksud untuk itu. Pepatah ini adalah hasil filsafat para pendahulu kita yang tentu saja telah diuji kebenarannya oleh waktu dan keadaan. Jadi adalah sebuah kesalahan apabila saya menyalahkan pepatah ini. Hanya ingin berbagi sebuah kesadaran kepada saudara-saudaraku tentang sisi lain dari pepatah ini. Marilah kita sadar bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita telah mendapatkan jaminan kemenangan atas apapun keadaan kita di bumi ini. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” ( Yohanes 1:12). Setiap anak-anak Allah pasti memiliki kuasa yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan anak-anak Allah. Kemudian tentang kemenangan yang diberikan kepada kita, rasul Paulus menuliskannya dalam 1 Korintus 15:57, “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Inilah yang membuat kita tidak harus sepenuhnya meyakini kebenaran pepatah yang telah lama diyakini oleh para pendahulu kita, namun bukan berarti kita harus menentangnya. Sebagai anak-anak Tuhan, kita telah diberikan janji yang sangat luar biasa dalam Ulangan 28 : 13, “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kau lakukan dengan setia.”
Sungguh merupakan janji yang luar biasa yang diberikan oleh TUHAN, Allah kita kepada anak-anak-Nya. Ayat ini yang membuat kita harus berpikir ulang untuk mempercayai perkataan orangtua yang mengatakan bahwa saat kita berada diatas suatu saat akan turun. Kita akan selalu menjadi kepala dan bukan ekor, akan terus naik dan bukan turun. Jelas dikatakan bahwa kita akan terus naik, jadi tidak ada yang akan menurunkan kita. Namun tentu saja kita tidak bisa begitu saja mengambil bagian ayat ini, di bagian selanjutnya adalah syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkan janji tersebut. Mendengarkan perintah Tuhan adalah satu syarat yang harus dilakukan untuk mendapatkan janji yang luar biasa ini. Jika kita mau sungguh-sungguh mendengarkan perintah Tuhan dan melakukannya, maka pepatah yang telah diyakini oleh para pendahulu kita selama bertahun-tahun (atau mungkin berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun) lamanya dapat kita patahkan karena kita adalah anak-anak Allah yang telah diberi-Nya janji untuk terus naik dan bukan turun. Inilah sebuah kesadaran yang ingin saya bagikan kepada saudara-saudara saya yang sangat saya kasihi dalam Tuhan. Selama kita tetap hidup dalam Tuhan, menjalankan perintah Tuhan, dan sepenuh hati untuk Tuhan, maka kita AKAN TERUS NAIK, DAN BUKAN TURUN. Saya menulis seperti ini karena saya teringat akan satu ayat yang ditulis oleh rasul Paulus dalam Kolose 2 : 8 “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” Tuhan memberkati saudara-saudara semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s