Kebiasaan Menonton Bola dan Risiko Cardiac Arrest

A. Pendahuluan
Sepak bola merupakan olahraga terakbar di bumi ini. Pertandingan sepakbola tentunya adalah sebuah acara yang sangat penting bagi sebagian besar orang di bumi ini. Menonton bola merupakan hobi dari sebagian besar pria di bumi ini. Ada sekitar 29 juta orang yang menonton langsung pertandingan sepakbola di seluruh dunia. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang secara rutin menonton pertandingan bola di televisi. Menonton bola tidak hanya kesenangan para pria saja, tetapi juga kegemaran kaum hawa juga, jumlah kaum hawa pecinta sepak bola ini diperkirakan mencapai 14 5 dari jumlah semua penggemar bola. Kegiatan ini merupakan sebuah kegiatan penting dalam kehidupan seorang penggila bola.
Namun secara tidak disadari, menonton bola juga memiliki risiko tinggi untuk terkena serangan jantung mendadak atau yang sering disebut Cardiac Arrest. Serangan ini tidak hanya menyerang para pemain yang sedang berlaga di lapangan hijau, namun juga bisa menyerang para penonton yang di tribun atau di depan televisi masing-masing.

B. Teori
Cardiac arrest, (also known as cardiopulmonary arrest or circulatory arrest) is the cessation of normal circulation of the blood to failure of the heart to contract effectively. Medical personnel can refer to an unexpected cardiac arrest as a sudden cardiac arrest or SCA. A cardiac arrest is different from (but may be caused by) a heart attack, where blood flow to the muscle of the heart is impaired.
Arrested blood circulation prevents delivery of oxygen to the body. Lack of oxygen to the brain causes loss of conciousness, which then results in abnormal or absent breathing. Brain injury is likely if cardiac arrest goes untreated for more than five minutes. For the best chance of survival and neurological recovery, immediate and decisive treatment is imperative.
Cardiac arrest is a medical emergency that, in certain situations, is potentially reversible if treated early. When unexpected cardiac arrest leads to death this is called sudden cardiac death (SCD). The treatment for cardiac arrest is cardiopulmonary resucitation (CPR) to provide circulatory support, followed by defibrillation if a shockable rhythm is present. If a shockable rhythm is not present after CPR and other interventions, clinical death is inevitable.
Secara sederhana, Cardiac Arrest dapat diartikan berhentinya aktifitas pemompaan darah dari jantung secara tiba-tiba atau kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efektif. Pada kasus cardiac arrest, jantung berhenti menjalankan tugas-nya. Menurut Douglas Zipes, MD, mantan Presiden The American College of Cardiology, cardiac arrest tidak sama dengan serangan jantung, tetapi cardiac arrest juga bisa terjadi karena serangan jantung.
Berdasarkan data American Heart Association, 90 persen kasus cardiac arrest terjadi akibat penyumbatan pada sekurang-kurangnya dua cabang arteri koroner. “Cardiac arrest adalah gangguan pada ritme jantung pada bilik jantung, yakni ventricles, berdenyut terlalu cepat dan tidak teratur, yakni 4 – 600 kali per menit,” kata Zipes.
Penyebabnya adalah kekacuan arus listrik jantung. Akibatnya, dinding bilik jantung hanya bergetar dan tidak mampu memompa darah sehingga terjadi kegagalan organ-organ vital. Kekacauan arus listrik pada jantung, menurut Zipes, disebut juga dengan ventricular fibrillation.
CPR atau teknik pemulihan denyut jantung dan pernapasan merupakan tindakan pertama untuk memulihkan irama dan frekuensi normal bilik jantung. Bila belum menguasai CPR, pertolongan pertama pada cardiac arrest adalah menekan tulang dada sedalam lima sentimeter (pada orang dewasa) sebanyak seratus kali per menit. Namun, jantung harus segera mendapat alat kejut listrik yang disebut dengan defibrillator yang biasanya hanya ada di rumah sakit.

C. Temuan di Lapangan
Serangan jantung adalah pembunuh utama di berbagai negara. Beberapa atlet sepak bola internasional bahkan mati ketika berlaga di lapangan hijau lantaran serangan-jantung.
Gelandang Sevilla, Antonio Puerta, misalnya, terkena serangan jantung di tengah pertandingan pada 2007. Pemain sepak bola Spanyol yang baru berusia 22 tahun itu akhirnya meninggal di rumah sakit tiga hari kemudian akibat multi-gagal organ, karena jantungnya berhenti cukup lama.
Pesepak bola Kroasia, Goran Tuinjic, juga menjadi salah satu korban pembunuh tersembunyi ini. Bahkan dia dikenai kartu kuning karena wasit mengira dia berpura-pura jatuh tersungkur. Pemain Mladost FC berusia 32 tahun itu jatuh dalam pertandingan melawan Hrvatski Sokola pada menit ke-35. Sang wasit baru sadar bahwa Tuinjic membutuhkan penanganan medis setelah mendekati pemain tersebut. Namun nyawa Tuinjic, yang sebelumnya tidak memiliki catatan kesehatan buruk, tak dapat diselamatkan. Dia dinyatakan tewas setiba di rumah sakit. Namun dokter mengatakan kemungkinan besar Tunjic tewas di lapangan karena serangan jantung hebat.
Selain Puerta dan Tuinjic, terdapat sederet nama pemain sepakbola yang kehilangan fungsi jantungnya di tengah pertandingan. Pada 2003, pemain-Kamerun, Marc Vivien-Foe, tiba-tiba terjatuh dan meninggal dalam pertandingan semifinal FIFA Confederations Cup antara Kamerun dan Kolombia. Otopsi mengungkapkan bahwa penyebab kematian pemuda 28 tahun itu adalah serangan jantung karena pembesaran bilik kiri.
Pada September 1990, David Longhurst, pemain York City, juga tewas di lapangan dalam pertandingan melawan Lincoln City. Pemain berusia 25 tahun itu jatuh dan meninggal akibat serangan jantung.
Serangan jantung juga menewaskan Dani Jarque, kapten Espanyol berusia 26 tahun, pada Agustus 2009. Beberapa bulan sebelumnya, kasus serupa merenggut hidup Jordi Pitarque, pemain Spanyol lain, pada usianya yang baru 23-tahun.
Nasib pemain sepak bola Spanyol, Miguel Garcia, dan pemain Belgia, Anthony Van Loo, jauh lebih beruntung. Nyawa mereka berhasil diselamatkan karena sempat dilarikan ke rumah sakit setelah terjatuh di tengah pertandingan akibat terkena serangan jantung.
Pemain Salamanca, Miguel Garcia, sempat “mati” selama setengah menit dalam pertandingan menghadapi Betis, Oktober 2010. Pembedahan berhasil menyelamatkan pria 31 tahun itu dari cardiac arrest, yang telah menewaskan sejumlah pemain sepak bola berusia muda.
Berbeda dengan Garcia, serangan jantung yang membuat Van Loo terkapar dan kejang-kejang di tengah lapangan dalam laga melawan Antwerp sudah diantisipasi. Setahun sebelumnya, dia telah terdeteksi memiliki gangguan jantung dan sebuah defibrillator ditanamkan ke tubuhnya. Alat itulah yang menyelamatkannya dari serangan mematikan tersebut.

D. Hubungan Menonton bola dan Cardiac Arrest
Permainan sepak bola merupakan aktifitas yang sangat memacu adrenalin. Bukan saja unutk para pemain yang bertanding di lapangan, tetapi juga bagi para penggila bola yang tentunya selalu melibatkan emosi dan perasaan mereka dalam melihat permainan sepak bola. Terlebih lagi ketika tim kebanggaannya yang bertanding, maka adrenalin yang dipacu juga semakin besar. Semakin penting sebuah pertandingan, maka hormon adrenalin yang harus dikeluarkan semakin besar juga.

Hormon adrenalin ini tentunya juga memberikan pengaruh besar pada aktifitas jantung mereka. Semakin adrenalin terpacu, semakin cepat pula detak jantungnya. Menonton bola juga berpengaruh besar dalam ritmenya. Sebagian besar penggila bola selalu menahan napas ketika bola telah sampai di kotak penalti, hal ini pasti mengganggu suplai oksigen ke seluruh tubuh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi prestise sebuah pertandingan, maka risiko serangan jantung semakin meninggkat.
Selama pertandingan Piala Dunia 2006, ditemukan sejumlah kasus cardiac arrest atau jantung berhenti mendadak dan berdebar-debar yang menimpa kaum pria di Munich. Di kalangan wanita, kasus itu meningkat dua kali lipat. Terlebih ketika Tim Jerman berlaga di perempatfinal melawan Argentina. Kasusnya kian meningkat saat Jerman berlaga di semifinal melawan Italia, dan kalah.
Di Inggris, peneliti menemukan serangan jantung meningkat 25 persen ketika Inggris kalah dari Argentina melalui tendangan pinalti di Piala Dunia 1998. Peningkatan angka itu membuat para ahli menganjurkan agar kalangan orang yang memiliki resiko stres gara-gara pertandingan bola, untuk mengonsumsi obat-obatan receptor blocker, aspirin, dan statin. Mereka bahkan menawarkan kalangan yang rentan itu melakukan terapi perilaku untuk menenangkan diri sebelum duduk di sofa dan menonton pertandingan.

E. Penutup
Meski serangan jantung telah menumbangkan sejumlah pemain sepak bola muda, dokter spesialis olahraga, dr Michael Triangto, SpKO, menolak bila sepak bola maupun futsal disebut sebagai olahraga berbahaya. “Bukan olahraganya yang berbahaya, melainkan ketidaksiapan fisik dan mental orang tersebut,” ujarnya
Menonton bola tidak selamanya harus berhubungan dengan serangan ini. Banyak juga manfaat yang bisa didapatkan dari permainan sepak bola bola. Yang harus diwaspadai adalah bahwa dalam bermain bola atau sedang menonton bola kita memang benar-benar siap secara fisik dan mental. Selain itu kita juga harus mengkonsumsi makanan yang sehat dan berimbang. Serangan ini tidak murni dari sepakbola saja, tetapi juga dengan beberapa faktor lainnya termasuk asupan makanan. Jadi, selain kita menjaga asupan makanan sehat, kita juga harus terus menjaga pola hidup sehat kita.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s