Seguyur hujan dan segenang kenangan

IMG_2139

Bila kalian berharap saya menuliskan bahwa hujan adalah 1% air dan 99% kenangan, maka anda menang, saya setuju dengan hal itu. Namun bila kalian berharap ini tulisan yang bisa menjadi referensi kegalauan bagi kalian yang biasa galau karna hujan, mungkin anda salah, namun mungkin anda benar. Hujan dan kenangan memang selalu berdampingan, seiring sejalan mempengaruhi emosi anak manusia.

Hujan memang memberi kita ruang dan waktu untuk menggalau, yang biasanya dilakukan adalah mengenang kenangan. Disaat kita tidak bisa melakukan sesuatu yang kita rencanakan karena terhalang hujan, maka terduduk diam (atau juga berdiri) serta merenung, kalau bukan melamun sih. Saya juga seringkali demikian, memandangi butir-butir air yang jatuh dari langit seolah berebutan mencium tanah yang selalu merindukannya. Memandangi air hujan yang menggenangi cekungan-cekungan di tanah itu membuat saya selalu teringat akan kenangan itu, kenangan-kenangan basah yang membahagiakan. Ssst.. kenangan basahnya memang benar-benar basah karna air hujan, bukan karna air mata lho ini. Kenangannya juga bukan karna sedang kehujanan berdua dengan mantan pacar yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. Hari gini galau karna mantan pacar, maaf bukan level saya. Saya nggak pernah punya mantan pacar tuh, jadi ga pernah lah ya galau karna mantan pacar. Boro-boro punya mantan, pacaran aja belom pernah. Bukan karna gak laku ya, tapi karna prinsip. Bukannya mau sombong, tapi Cuma belom ngerasa perlu pacaran aja. Tapi bukan berarti gapunya gebetan dong ya. Upss.. tapi bukan disitu sih intinya. Kembali pada kenangan basah yang selalu terkenang ya.

Saya bersyukur saya masih sempat menikmati kenangan basah itu. Saya merasa lebih beruntung bila dibandingkan dengan anak-anak sekarang yang tidak sempat menikmati kenangan basah tersebut. Sebenernya ini kenangan basah apa sih? Yang pasti ini bukan mimpi basah dan ngompol, kalau ada yang berpikir kesana segera karantina topic tersebut, tidak akan dibahas disini. Kenangan basah yang dimaksud adalah kenangan saat saya bisa hujan-hujan saat hujan. Ada yang bertanya, “hanya Itu?” Yupps,, hanya sesederhana itu. Kalian yang pernah mengalami apa yang saya alami tentu setuju dengan apa yang saya katakan ini, tentu saja bukan kalian yang kalo kehujanan trus pilek. Saat itu, mendung bukanlah sesuatu yang mencemaskan seperti yang dirasakan oleh orang-orang dewasa. Mendung adalah pertanda akan hujan, meski setiap orang yo mesti ngerti akan hal ini. Saat saya kecil, mendung adalah pertanda kebahagiaan akan segera menghampiri kami. Ibu-ibu pun dengan sangat perhatian akan berpesan, bajunya dilepas dulu kalo mau maen. Tentu saja untuk melindungi diri dari tuntutan cucian seabrek yang akan membayangi hari-hari ibu-ibu, ditambah kalau musim hujan cucian akan susah kering, stok pakaian terbatas membuat ibu-ibu semakin perhatian akan hal itu. Saat grimis mulai turun, kita nggak mengenal kata-kata menggerutu, atau mulai melamun. Dengan segera kami menyanyikan apa yang disebut nyanyian hujan agar hujan semakin deras. Dengan teriakan-teriakan yang keras memanggil anak-anak yang lain untuk ke lapangan dengan membawa bola, bermain bola saat hujan di lapangan yang berlumpur adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa indah. Best moment ever saat bermain bola kala hujan adalah saat bisa melakukan sliding tekel, dengan tanah yang licin kami bisa melakukan trek sliding tekel yang lebih panjang, kami merasa seperti sedang bermain ski, sungguh kebahagiaan yang sekarang menjadi kenangan basah.

Hujan-hujan kala itu adalah sebuah kebebasan. Kami tak pernah berpikir bahwa besok akan ada ulangan harian atau masih ada PeeR yang belum selesai dikerjakan. Yang kami tahu adalah bahwa hujan adalah kawan yang datang berkunjung, merasakan air yang menghujam dari langit membasahi seluruh tubuh sampai tak bisa lebih basah lagi. Sebelum kami menonton film india yang hampir selalu ada adegan menari-nari di bawah guyuran hujan, kami lebih dahulu melakukannya tanpa ada yang mengajari. Saya bersyukur masih sempat menikmati itu. Saya bersyukur bahwa ucapan yang keluar dari mulut ibu saat gerimis adalah, “jangan lupa baju yang kemarin belom kering, kalo mau ujan-ujan bajunya lepas dulu” bukannya, “awas jangan main hujan-hujanan, kalo sakit nanti ibu juga yang repot.” Saya bahagia bisa menendang bola di lapangan yang berlumpur dengan tubuh basah diguyur air hujan yang menyegarkan, bukan hanya sekedar duduk di depan layar televisi memandangi orang-orang menendang bola dari tombol-tombol yang dipencet. Saya senang masih sempat merasakan datangnya hujan adalah kebebasan, bukan penjara dari kenangan masa lampu yang membelenggu.

Teman-teman masa kecilku, terima kasih telah menjadi bagian dari kenangan indah yang mengisi 99% waktuku kala hujan turun. Kapan-kapan kita ulangi lagi ya, kakiku sekarang sudah lebih panjang, aku yakin sliding tekelku bisa merebut bola dari kakimu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s