Indonesia Dalam Darurat Pendidikan Keluarga

Mungkin saya agak terlambat menulis tentang hal ini, tetapi gelombang beritanya masih lumayan banyak beredar di portal-portal berita online, jadi saya pikir belum terlalu terlambat untuk menuliskan hal ini, toh bagi saya prinsipnya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Di sisi lain, memang baru akhir-akhir ini saja kepala saya dipenuhi oleh pikiran tentang hal ini. kalau meminjam kata yang sering dipakai pak SBY, saya prihatin akan hal ini.

Indonesia darurat asap dulu sempat ramai dibicarakan di media sosial, lengkap dengan postingan-postingan gambar dimana semuanya memakai masker dan membawa tulisan-tulisan di kertas berisi aspirasi. Indonesia darurat narkoba sampai sekarang masih, meski tidak begitu massif beritanya, namun Badan Narkotika Nasional masih menetapkan status Indonesia dalam keadaan darurat bagi risiko penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Masih ada beberapa status darurat yang seringkali muncul terkait kasus tertentu, namun terlalu panjang kiranya kalau kita bahas disini satu-persatu. Kali ini saya ingin mengajak untuk mencermati kasus darurat tentang pendidikan keluarga. Mengapa saya menuliskan hal ini adalah karena dilatarbelakangi oleh pemberitaan tentang kasus Yuyun yang diperkosa sampai meninggal kemudian melahirkan gelombang protes public atas darurat perlindungan anak dan kekerasan seksual. Bahkan setelah kasus itu diangkat ke media public dan gelombang kegeraman yang sangat besar dari netizen, kasus-kasus serupa yang selama ini didiamkan saja ikut diangkat ke permukaan. Seolah ingin menampar muka orang-orang yang memiliki kepentingan. Beberapa netizen pun menggalang petisi kepada pemerintah untuk segera merevisi undang-undang tentang perlindungan anak dan kekerasan seksual. Petisi tersebut sudah menembus 60.000 lebih dukungan dan telah disampaikan oleh pihak terkait kepada pemerintah, pemerintah merespon dengan menyiapkan peraturan pemerintah pengganti Undan-Undang (perppu) untuk menindaklanjuti hal tersebut. Kasus kedua yang membuat saya berpikir bahwa Indonesia sedang mengalami darurat pendidikan keluarga adalah kontroversi kebijakan yang dikeluarkan KPAI untuk memblokir beberapa game online yang dianggap berbahaya bagi anak. Kebijakan yang menimbulkan polemik ini terkait asumsi bahwa KPAI tidak melakukan riset terhadap label game yang dikeluarkan oleh dinas yang mengurusi tentang game di Amerika yang memberikan label kepada setiap game yang menentukan kelompok usia yang memainkan game tersebut. Netizen yang sebagian besar adalah pemain game sempat protes kepada KPAI dan bahkan ada yang mengubah tampilan website menjadi seperti tampilan game. Mereka beranggapan bahwa game yang memang untuk orang dewasa tersebut tidak boleh seenaknya dimainkan oleh anak-anak, dengan begitu seharusnya tidak berbahaya bagi anak-anak karena mereka seharusnya tidak memiliki kesempatan untuk mengakses permainan tersebut.

Saya sebagai mahasiswa psikologi yang memfokuskan passion saya pada masalah sosial dan remaja menyadari bahwa kedua kasus ini tidak muncul begitu saja. Beberapa tokoh menyatakan bahwa kasus kekerasan seksual yang mencuat belakangan ini karena banyaknya miras atau minuman beralkohol yang beredar. Mereka berpikir bahwa miras adalah akar segala permasalahan ini. sebut saja tokoh seperti Tifatul Sembiring dalam kicauan akun twitter pribadinya.

@tifsembiring Minuman keras itu induk dr segala kejahatan. Bukti sdh banyak: Perkosaan, pembunuhan, tabrak lari, bunuh isteri. Dukung RUU Larangan Miras.!

Lebih lanjut pak Tifatul mengutip satu ayat Al-quran tentang minuman keras tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh wakil gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar. Seperti yang ditulis portal berita Republika.co.id, beliau mengatakan, mabuk akibat miras adalah ibu dari segala kemaksiatan di muka bumi ini. Sebab, ketika seseorang mabuk, kesadarannya berkurang. “Karena kesadaran berkurang dia bisa melakukan seluruh maksiat di muka bumi,” kata Deddy Mizwar saat diminta tanggapannya tentang kondisi Indonesia Darurat Kejahatan Seksual di Bandung, Jumat (13/5).

Saya sangat menyayangkan tokoh-tokoh ini yang menurut saya berpikir setengah-setengah dalam menganalisis masalah ini. saya tidak menyalahkan bahwa miras akar segala kemaksiatan atau mabuk ibu dari segala kemaksiatan. Namun ada yang lebih esensial dan lebih krusial untuk disampaikan, dimana peran keluarga, bagaimana pendidikan dan pengasuhan oleh orang tuanya, orang-orang disekitarnya. Sewaktu saya menempuh pendidikan di Sekolah Dasar, saya pernah membaca sebuah peribahasa demikian, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Waktu itu saya hanya tahu bahwa seperti apa anaknya, seperti itulah bapaknya. Apabila kita berbicara bukan hanya tentang ayah dan anak, tapi mewakili sebuah generasi, apa implikasinya? Disini bukan hanya berbicara like father like son, tapi juga berbicara tentang keteladanan dan pendidikan. Apabila pak Tifatul mengutip Al-quran, saya pernah membaca di Bible yang begini ayatnya, “Train up a child in the way he should go: and when he is old, he will not depart from it.” Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan begini, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu.” Pertanyaannya adalah, apa yang selama ini kita ajarkan pada anak-anak kita ini sehingga beberapa dari mereka melakukan tindakan yang kita benci?

Apakah yang kita ajarkan selama ini hanya tentang larangan-larangan, seperti yang terjadi saat KPAI memblokir atau melarang anak-anak bermain game? Apakah kita senang bila anak-anak patuh pada setiap larangan kita? Pernahkah mendengar tentang penggalan lagu yang demikian, “kita terlahir bagai selembar kertas putih,” apabila setiap anak seperti selembar kertas putih, tinta apa yang telah kita tumpahkan diatasnya? Anak-anak berbuat kesalahan karena mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, karena mereka belum tahu mana yang benar. Sebagai orang tua, adalah ssudah menjadi tugasnya untuk memberitahukan kepada anak dimana letak kesalahannya dan memberitahukan hal mana yang benar yang harus dilakukannya. Hal ini harus dilakukan berulang-ulang saat anak masih kecil, sehingga akan tertanam dalam dirinya untuk berbuat sesuatu yang benar, apabila anak melanggar tentu ada baiknya diberikan konsekuensi atas perilakunya, dengan hukuman yang edikatif tentunya, sehingga anak akan berbalik ke jalan yang benar, bukan memupuk jiwa pemberontak di dalam diri anaknya. Namun yang saya temui seringkali adalah sebaliknya, banyak orang tua yang abai dengan kebutuhan anak ini. ada orang tua yang berpikir bahwa anak akan tahu sendiri kalo sudah gede nanti, sehingga mereka tidak perlu mengajar anak untuk melakukan ini dan itu. Faktanya adalah, mereka tahu karena mereka mendapatkan pendidikan dari masyarakat, dari orang-orang di sekitar mereka. Pada jaman orang tua sekarang ini masih kecil, orang-orang tua di sekitar mereka sangat perhatian dengan perkembangan dan pertumbuhan mereka, sehingga ketika orang tuanya sendiri tidak mengajari mereka tentang satu hal, masyarakat yang mengajari mereka, sehingga seolah-olah anak tahu sendiri apa yang harus dikerjakan atau dipikirkan. Lalu bagaimana dengan kondisi masyarakat yang acuh tak acuh sekarang ini, apabila orang tua mereka sendiri tidak mengajari mereka, orang-orang tua lainnya di sekitar mereka pun tidak mengajari mereka, maka teman-teman sebaya mereka lah yang mengajarinya, smartphone mereka lah yang mengajari mereka, internet yang menjadi panutan mereka. Padahal mereka belum mendapatkan cukup bekal untuk dapat memfilter informasi mana yang sesuai, informasi mana yang benar, apa yang baik yang boleh dilakukan dan apa yang buruk yang tidak boleh dilakukan. Hasil yang muncul dari pudarnya fungsi pendidikan dalam keluarga adalah berbagai kasus tawuran antar pelajar, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan beberapa perilaku menyimpang lainnya yang biasa dilakukan oleh remaja.

Di lain sisi, kebijakan untuk menerapkan banyak larangan jelas akan membatasi kreatifitas anak. Saya senang ketika di sekolah diberikan tata tertib. Artinya diberikan ketentuan bagaimana menjadi siswa yang tertib, bukan sekedar larangan untuk ini dan itu. Jika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan larangan, dan konsekuensi hukuman yang cenderung keras, anak akan tumpul inisiatifnya. Anak mulai malas mengeluarkan kreatifitasnya karena takut apa yang dia lakukan salah, mendapatkan hukuman. Lambat laun anak akan menjadi seperti katak dalam tempurung, sangat terbatas pengetahuan dan kemampuannya. Saat anak masuk ke dalam pergaulan, anak akan menjadi sangat mudah untuk dipengaruhi teman sebayanya, teman sepermainannya. Bila dia masuk dalam pergaulan yang baik tentu saja tidak perlu kita risaukan, namun apabila terjadi sebaliknya, itulah yang harus menjadi perhatian kita bersama.

Saat ini saya berpikir bahwa Indonesia sedang Darurat Pendidikan Keluarga. Banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya pendidikan hanya pada guru dan sekolah, padahal kenyataanya adalah dasar-dasar pendidikan moral yang membentuk kepribadian seseorang diberikan di dalam pendidikan keluarga. Apabila keluarga telah gagal mendidik seorang anak, maka sekolah yang baikpun tidak akan bisa mengubah anak tersebut, mungkin hanya menjaganya untuk tidak jauh menyimpang, jika memang kebijakan di sekolah tersebut bagus. Apabila hal itu tidak terjadi, tentu saja ada banyak kasus seperti yang ditayangkan dalam berita-berita di televise tentang remaja. Mari kita satukan pemikiran, pendidikan keluarga adalah fondasi bagi kehidupan anak, apabila keluarga gagal menjalankan fungsinya, jangan salahkan pihak guru dan sekolah apabila anak anda tidak seperti yang anda harapkan. Anak anda adalah hasil dari pekerjaan tangan anda di rumah, apa yang anda ajarkan dan teladankan, akan menjadi seperti itulah anak anda. Mari mulai berpikir bersama bagaimana untuk mengaktifkan kembali fungsi keluarga sebagai intitusi pendidikan pertama dan utama bagi anak.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s