Om Telolet Om; sebuah kejenuhan psikologis lini massa

images-18

Om telolet om, om telolet om, telolet om telolett,,

images-17

minggu kemarin, kata-kata tersebut merajai lalu lintas lini massa media sosial, yang akhirnya go international setelah beberapa akun media sosial para public figur dan selebritas manca negara dibanjiri oleh komentar “Om telolet Om” dari para pengikutnya, terutama oleh para pengikutnya yang berasal dari indonesia. Mereka pun bertanya-tanya, apa artinya “Om Telolet Om” yang bahkan sampai menarik perhatian mister president atau POTUS untuk turut meramaikan berita telolet ini.

images-19

Yang menariknya lagi adalah, beberapa DJ kaliber internasional membuat musik remix dari rekaman om telolet om yang beredar di internet, saya tidak akan membahas siapa aja mereka karena bukan itu fokus tulisan saya ini. Kalau orang-orang luar negeri bertanya-tanya apa artinya, saya justru bertanya kenapa ini terjadi, dan kenapa terjadi sekarang?

Jika menilik ke belakang, bunyi klakson pada kendaraan besar seperti bus atau truk ini sudah ada sejak lama, dan mulai banyak digunakan oleh para sopir bis maupun sopir truk (menurut pengamatan pribadi saya) sekitar mulai empat tahunan yang lalu. Saya berasal dari kawasan pantura, dan disana banyak sopir yang menggunakan klakson telolet, namun sepertinya biasa meski pernah sekali dua kali ada sekelompok anak di pinggir jlan menunggu bis dengan membawa hape kecil untuk merekam bis telolet yang lewat. Intensi keberadaan anak-anak pemburu telolet ini mulai saya rasakan sekitar dua tahun yang lalu, ketika saya menikmati perjalanan naik bis dari solo ke tawangmangu. Ada beberapa kali bertemu dengan sekelompok anak yang bergerombol di pinggir jalan dan ketika muncul bis segera memasang kamera, atau lebih tepatnya hapenya dan memberi sinyal minta klakson dari sopir bis untuk membunyikan telolet. Sederhana, murah dan membahagiakan, betapa senangnya mereka ketika suara telolet itu terdengar, tentu saja belum sekeren sekarang. Oke, cukup segitu dulu aja pendahuluannya, selain udah capek ngetik, juga udah mulai beranjak malam. Berikutnya adalah analisis subyektif dari saya, yang mencoba membahas dari sudut pandang ilmu yang saya pelajari, yaitu psikologi.

Sesuatu yang mendadak viral di media sosial tentu bukan tanpa sebab. Sebagian besar pengguna medsos yang saya lihat cukup acuh pada hal-hal yang tidak menarik perhatian mereka, jadi kalau ada sesuatu yang viral, maka ini jelas memiliki hal yang menarik. Bagi saya mengapa om telolet om menjadi sangat viral dan mendunia adalah karena kejenuhan psikologis lini massa yang telah terlalu dimonopoli oleh berita kasus penistaan agama, yang melebar kepada ancaman perpecahan bangsa. Munculnya banyak status-status provokasi, penggiringan opini, debat sana-sini dan saling mengolok-olok serta saling berusaha menjatuhkan antar kubu. Ditambah dengan masa kampanye pemilukada, terutama di DKI Jakarta yang gegap gempitanya seperti pemilihan presiden. Bagi saya, sebagai salah satu penghuni lini massa, sudah cukup bosan melihat berita-berita dan update-update yang bagi saya kurang bermutu dan cenderung negatif. Padahal di sisi lain saya masih ingin melihat kabar teman-teman saya yang jauh dari saya tinggal, yang melalui sosial media saya bisa update kabar dari mereka.

Beruntung, pada saat intensitas konten yang kurang sehat itu semakin meninggi dan kabar ancaman perpecahan bangsa menguat, bersamaan dengan itu bergulirlah penyelenggaraan Piala AFF 2016, yang membuat para penggiat media sosial sedikit beralih untuk bersatu mendukung timnas berlaga di piala AFF. Pengalihan beban yang cukup baik menurut saya, energi yang biasanya digunakan untuk berdebat di media sosial, adu argumen menjadi disalurkan untuk mendukung timnas berlaga, apalagi ketika timnas indonesia akhirnya mampu melaju ke final, euforia dukungan kepada timnas menjadi semakin luar biasa dan mencoba menekan berita-berita tentang “konflik” yang ada. Namun setelah kurang lebih sebulan pengalihan isu Piala AFF 2016 ini sampai pada partai puncak dimana akhirnya timnas Indonesia belum berhasil membawa pulang Piala AFF, kembalilah para penggiat lini masa ini pada realita. Mulailah kembali kebiasaan saling menyalahkan, saling menghujat dan mengolok-olok serta kembali membuat panas berita-berita yang sebelumnya sempat mereda. Kondisi masyarakat media sosial kembali pada kubu-kubunya masing-masing. Para pejuang kebhinekaan berusaha mengimbangi berita-berita negatif yang muncul dengan berita-berita positif, namun sepertinya cara tersebut semakin membuat jenuh para “silent reader” seperti saya ini. Entah siapa yang memulai, muncul komentar om telolet om pada akun-akun media sosial dan kemudian viral.

Setelah sebelumnya timnas Indonesia yang mencoba dingkat oleh para pejuang kebhinekaan untuk menyadarkan pentingnya menjaga kebhinekaan, dengan memberikan contoh timnas yang terdiri atas berbagai latar belakang. Munculnya om telolet om juga menyadarkan bahwa tak peduli apapun latar belakang para pencari telolet, mereka berkumpul bersama, bahagia berama, tidak mempersoalkan perbedaan yang ada. Bahwa sesungguhnya om telolet om bukan hanya sekedar guyonan semata, tapi juga sebuah bentuk “kampanye” yang sangat efektif menurut saya. Apabila ada persatuan, maka sebuah hal membanggakan yang dapat di raih. Agnes Monica butuh berapa tahun berkarya dan bekerja keras sebelum akhirnya go internasional. Om Telolet Om cuma butuh beberapa hari untuk bisa go internasional dan masuk dalam billboard. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam psikologis lini massa ini, masih banyak “warga” yang nyaman dengan kondisi kebhinekaan yang ada, dan tidak setuju atau dengan kata lain protes pada tindakan penyeragaman oleh kelompok-kelompok tertentu. Om telolet om adalah bukti nyata tak terbantahkan dari semangat gotong royong yang dimiliki bangsa Indonesia, bahwa jika kita kerjakan bersama-sama, kita pasti bisa melakukannya, jika kita bersatu maka dunia akan meandang kita penuh kekaguman. Jadi mari kita bersatu untuk negeri ini, mengerjakan yang lebih hebat dari om telolet om bersama-sama dan membuat mata internasional terpana dan kagum.

Akhir kata dari saya Om telolet Om

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s