Rumah

Tantangan Menulis 30 Hari
Hari keempat.

Tidak peduli kemanapun arahmu pergi, tak peduli kearah mana engkau tersesat, yang terutama adalah arah pulang itu selalu menujumu.

Menujumu, iya menuju kamu. It’s a home, jadi jangan geer dulu kalo denger kata-kata itu. Rumah adalah arah untuk pulang. Bagi mahasiswa perantauan seperti saya, rumah adalah segalanya, terutama karena ada masakan ibu disana. Oh ya, jangan lupakan juga pijitannya yang membuat tubuh bugar dan dekapannya yang nggak cuma hangat tapi juga menenangkan. Meskipun apa yang beberapa tahun ini saya jalani adalah saya hanya “numpang nginep” di tempat yang saya sebut rumah itu, namun rumah itu tetaplah rumah. Meskipun saya sudah pernah menginap di hotel bintang 3, hotel bintang 5, dan hotel sejuta bintang (tentu kalian tahu lah hotel apa yang dimaksud ini), tidak pernah saya temukan rasa nyaman seperti saat saya berada di rumah, lebih tepatnya rumahnya bapak.

Jadi sesungguhnya apa sih yang membedakan rumah itu dengan rumah-rumah lainnya? Apa yang ada disana dan tidak ada di tempat-tempat lain? Satu hal yang tidak akan pernah ditemukan di tempat lain adalah childhood memories atau kenangan masa kecil. Meskipun beberapa monumen kenangan itu sudah tidak ada, namun memori itu masih tersimpan jelas di dalam otak saya. Kenangan-kenangan akan kenakalan masa kecil adalah salah satu memori yang susah untuk dilupakan, bahkan seringkali sengaja dipertahankan sebagai “bahan kesombongan” saat bertemu dengan teman-teman masa kecil, dan saya hampir selalu kalah akan hal ini dibandingkan teman-teman saya. Paling-paling kenakalan masa kecil saya adalah mencuri mangga tetangga dengan ketapel yang hampir setiap hari kami bawa saat bermain-main, atau ngambil semangka di kebun orang saat orangnya ngga ada. Namun meskipun masa kecil saya terkesan lurus-lurus saja, tetap saja ada beberapa yang berkesan dan sukar dihilangkan dari ingatan.

Salah satu memori tentang rumah yang akan selalu teringat adalah cambuk hitam kepunyaan ayah. Cambuk ini sebenarnya adalah alat bantu yang dipakai untuk menghalau sapi saat dipakai membajak sawah agar jalannya lurus sesuai alur. Namun cambuk ini beberapa kali mendarat di punggung saya saat kecil, ya tentu saja karena saya yang tidak menurut sama orang tua. Pernah suatu ketika saya “dihajar” oleh bapak saya dan saya lari ke persawahan di belakang rumah sambil menangis. Ya kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana anak usia 8 tahun dicambuk, tentu saja kesakitan kan.. saya berlari sampai jauh ke tengah persawahan, kemudian duduk di sebuah gubuk kecil di tengah sawah, sambil sesenggukan menahan sakit. Sampai akhirnya ibu saya datang dan membujuk saya untuk pulang. Memori yang lain adalah kebiasaan saya memanjat pohon kapuk. Sayangnya pohon kapuk ini sudah lama ditebang sehingga hobi saya ini putus begitu saja, saya gagal move on, karena gaada pohon lain yang bisa menggantikan nyamannya pohon kapuk itu. Pernah juga suatu ketika saya dimarahi oleh bapak, sungguh ingin saya membantah semua ucapannya yang sangat melebih-lebihkan dari kenyataan yang ada, tapi saya tahu itu hanya akan menambah panjang masalah. Jadi yang saya lakukan adalah saya lari ke belakang rumah, di tepi persawahan yang ada pohon kapuknya itu dan memanjat pohon serta nangkring dengan tenangnya di pohon itu sambil menenangkan diri. Setelah beberapa lama akhirnya diri saya tenang, saya turun dan pulang ke rumah. Sesampai di rumah biasanya kondisi kembali normal, karna bapak pun sudah tenang emosinya.

Meskipun saya sekarang sering menyebut tempat kos-kosan sebagai rumah, tentu saja itu hanya sebuah pengalihan isu dari apa yang sebenarnya terjadi, saya rindu pulang. Saya rindu masakan ibu yang entah pakai bumbu magis darimana rasanya selalu lebih enak dari masakan siapapun. Atau merindukan suara-suara mengganggu tidur nyenyak di waktu pagi. Ini adalah salah satu pengalaman tidak menyenangkan di masa kecil yang kusadari sekarang sangat berguna. Ternyata suara-suara berisik itu adalah didikan pendisiplinan yang berguna sampai sekarang, saya termasuk manusia yang selalu bisa bangun pagi. Tentu saja prosesnya ngga mudah, saat saya kecil selalu dibangunkan jam 5 pagi, apabila jam setengah 6 pagi belum turun dari kasur, maka akan ada tetes-tetes air dingin yang menghantam kelopak mata. Tetes-tetes air itu berasal dari kendi. Kendi itu semacam teko yang terbuat dari tanah liat, apabila kendi itu diisi air pada sore hari dan dibiarkan semalaman, pagi harinya air di dalam kendi itu akan sedingin air di dalam kulkas. Kalo penasaran rasanya gimana, coba minta tolong seseorang untuk membangunkanmu di jam setengah 6 pagi dengan tetesan air dari kulkas, rasanya sungguh luar biasa dingin. Namun saya bersyukur, dengan itu saya bisa terlatih untuk disiplin bangun pagi sampai sekarang.

kendi-air
Kendi air

Ah, baru juga hari ini meninggalkan rumah sudah rindu ingin pulang lagi saja rasanya. Benar memang apa yang orang-orang katakan, “merantaulah agar kamu tahu rasanya rindu dan ingat bahwa arah pulang adalah selalu menuju rumah.”

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s