Kebun Binatang

Keju gratis hanya ditemukan di atas perangkap. ~Tikus~

Malam ini saya sedang merenung, mengapa sekarang kebun binatang banyak yang sepi? Ternyata jawabannya adalah, karena binatangnya sekarang banyak berkeliaran di media sosial. Ya, media sosial sekarang banyak ujaran kebencian dari orang-orang yang belum mampu mengontrol emosinya dengan baik. Banyak hal-hal yang tidak selayaknya diujarkan di ruang publik terujar begitu saja di ruang publik, bahkan beberapa diujarkan dengan sengaja dan bangga. Tentu saja bukan semua penghuni kebun binatang yang berkeliaran di media sosial, hanya beberapa saja yang memang terkenal. Menurut pengamatan saya sih yang paling sering muncul ya babi, anjing, monyet, kuda, tikus. Seringnya yang saya lihat, sebutan binatang ini digunakan untuk mengumpat orang lain, membandingkan orang lain yang dibenci dengan binatang itu atau menyamakan dengan binatang itu.

Kalau saja binatang itu bisa ngomong, atau bisa protes tentu saja mereka akan protes. Atau mungkin di dunia paralel sekarang para binatang sedang twitteran dan terlibat twit war dengan saling memaki meneriaki nama-nama kita. Hewan-hewan yang ada tuh nggak semua bersifat seperti yang diteriakin sama orang-orang di media sosial itu lhoh,, mereka juga punya sifat-sifat bagus yang kadang dipakai di dunianya om mario, tentu saja untuk memotivasi orang-orang. Dalam dunia psikologi, sebagaimana manusia memiliki sifat yang berbeda antara individu satu dengan yang lainnya, binatang juga masing-masing memiliki sifat-sifat khas. Sebut saja contohnya, yang paling umum dikenal adalah anjing itu setia, kuda itu pekerja keras, babi itu tamak dan sebagainya. Namun tak seharusnya nama-nama hewan itu menjadi label untuk orang-orang yang tidak disukai. Aku yakin hewan-hewan itu akan tersinggung bila mendengar nama mereka disama-samakan dengan orang-orang itu. Saya aja ga suka kalo disama-samain dengan orang lain, apalagi ini hewan, mereka pasti akan protes kalo bisa protes. Pasti akan pada demo sambil bilang, untukmu duniamu, untukku duniaku. Eh tapi bukan ini sih inti persoalannya, yang mau aku sampaikan adalah sudah selayaknya kita sebagai manusia, yang konon katanya derajatnya lebih tinggi daripada hewan-hewan itu memiliki etika berkomunikasi yang baik, bukan asal berkicau kayak burung-burung di pasar. Ada baiknya saat kita berujar di media sosial menggunakan etika yang baik, yang sesuai dengan nilai dan norma dimana kita tinggal, dan dari budaya ketimuran yang dikenal memiliki adat istiadat kesopanan yang baik.

Sebagai penutup, ijinkan saya mengutip sebuah kalimat dari guru besar saya.

Wise man speak because they have something to say, fools because they have to say something.

Orang bijak berbicara karena mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan, orang bodoh berbicara karena mereka harus mengatakan sesuatu.

~Plato~

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s