Malam Minggu Kebo #3 Terima Kasih Mesen

Mesen adalah kampus dan cinta pertama saya. Saya menyebutnya cinta pertama karena memang ini kampus pertama dan saya langsung jatuh cinta pada kampus ini. Meskipun pada awalnya saya sempat bertanya-tanya dimanakah kampus mesen itu, karena pada saat diterima sebagai mahasiswa psikologi uns, tidak ada tanda-tanda atribut psikologi di gedung-gedung fakultas kedokteran kampus kentingan. Ketika saya bertanya pada salah seorang staff di fakultas kedokteran uns, saya diberitahu bahwa kampus psikologi itu ada di mesen. Ah mana lagi itu mesen, pikir saya. Setidaknya saya pernah sekali nyasar dalam perjalanan pertama ke mesen dan itu karna kesalahan membaca papan nama, yang waktu itu masih terpasang di kampus tirtomoyo. Usut punya usut, ternyata kampus psikologi juga memang baru pindah dari kampus tirtomoyo ke kampus mesen pada bulan februari pada tahun itu. Setelahnya, saya berjalan kaki menuju kampus mesen dari kampus tirtomoyo, sebuah momen yang ngga akan saya lupakan tentang bagaimana saya seperti orang hilang di kota orang.

Sejujurnya kesan pertama saya pada kampus mesen bukanlah sesuatu yang manis. Saya melihatnya seakan ngga yakin, bener nih kampusnya? Membandingkan dengan gedung-gedung di kampus kentingan sepertinya ada yang salah. Namun memang demikianlah adanya, saya masuk dan pendapat awal saya ngga berubah, ini kampus apa gedung SD sih, SMA saya rasanya lebih bagus dari ini. Kemudian yang terjadi adalah, don’t judge the book by it’s cover. Ternyata orang-orang psikologi uns itu adalah keluarga. Mereka yang membuat gedung-gedung seadanya di mesen ini menjadi sebuah rumah yang nyaman untuk ditinggali. Mesen menjadi tempat bernaung dan bertumbuh bersama dalam kehangatan keluarga kecil yang bahagia. Benarlah kiranya pepatah jawa yang bilang, “witing tresna jalaran saka kulina.

Di mesen lah pertama kali saya mengenal organisasi mahasiswa yang saya masih ingat bagaimana saya bergabung dengan a little cute family called komjar. Sebuah divisi komunikasi dan jejaring dari himpunan mahasiswa psikologi universitas sebelas maret. Orang-orang keren yang membantu seorang anak desa untuk berkembang dan berproses dalam banyak keterbatasan yang dimiliki, terima kasih untuk semua kritik dan saran serta kenangan yang telah kalian berikan. Di mesen saya belajar dengan dukungan penuh dari teman-teman baru yang telah menjadi saudara, terima kasih penuh untuk teman-teman Indigo 2011, dimanapun kalian telah tersebar saat ini, kenangan itu masih utuh tersimpan di hati ini. Terima kasih untuk setiap ruang kelas, sauna gratis bagi kami, panasmu akan selalu kami kenang. Terima kasih untuk para legenda kampeda, yang menceriakan hari-hari saya, gojekan-gojekan gayengmu akan tetap di hati, terkhusus untuk (alm) Pak No, you da real MVP sir, petuah-petuah nan bijak yang menyejukkan hati darimu selalu kami rindukan.

Tak lupa pula untuk setiap dosen yang baik hati di psikologi mesen, terima kasih telah mendidik kami bukan cuma menjadi berilmu tapi juga bagaimana menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Terima kasih telah menjadi inspirasi untuk saya, bangga pernah menjadi anak didik kalian. Rasanya bisa dituliskan semalam suntuk apabila semua kenangan itu hendak dituliskan, namun apa daya tangan saya tak mampu menuliskan semuanya. Ijinkan saya menutupnya dengan kata-kata bijak dari supir truk yang tertulis di bak belakang mobil mereka, “tak bisa pindah ke lain hati, hanya ke lain body.” Mungkin Mesen telah pindah ke Kentingan, tapi jiwa mesen itu tak akan pernah bisa pindah dari hati ini. Terima kasih mesenku, mesen kami semua.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s