Dekomposisi

​Daun yang jatuh tak bertanya pada ranting

mengapa ranting tega melepasnya

Daun tahu semua ada masanya

Dan bumi yang slalu merindunya
Seperti ranting yang ikhlas melepas daun dan bertumbuh

Seperti daun yang ikhlas melepas ranting

Untuk memeluk bumi yang slalu merindunya

Meski sering daun terhempas angin,

terhanyut arus, terinjak, tersapu, terabaikan.
Kemudian daun diam bersetubuh bumi

mengurai diri dalam bagian-bagiannya

melepaskan kekakuan akan urat diri

menjelma menjadi partikel-peartikel

yang tak kast mata namun ada
kemudian akar memeluknya, menariknya dan membawanya pergi

mengusik ketenangan yang baru saja diraihnya

diangkatnya dia melalui saluran-saluran sempit

berdesakan penuh sesak, bergesekan dalam gerak

beranjak dan terus menjauh, bergesek dan terus naik
kemudian berhenti di suatu tempat yang begitu dikenalnya

partikel bertemu dengan yang dahulu zona nyamannya 

yang kini telah tumbuh besar dan kuat

namun bagi partikel daun, dahan itu tetaplah ranting

dimana daun pernah melekat disana.

Diantara gontai langkah kaki  suatu siang di hari senin antara kentingan ngoresan, Surakarta.

dua belas dua belas dua puluh enam belas.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s