Malam Minggu Kebo #4 20 jam di Ngaduman

Hari ini adalah tanggal 28 Januari 2017, meski hari sabtu tapi tanggalnya merah karena bertepatan dengan hari raya imlek atau chinese lunar new year. Ketika semua orang berduyun-duyun dari berbagai tempat untuk merayakan tahun baru ini di kota-kota besar, saya lebih tertarik untuk menarik diri sejenak dari hiruk pikuk suasana perkotaan dan menenangkan diri di sebuah desa kecil di lereng merbabu. 

Ngaduman adalah sebuah dusun, yang merupakan bagian dari desa Tajuk kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Dusun yang terletak di ketinggian 1685-1770 mdpl ini setahu saya adalah dusun tertinggi di lereng merbabu sisi kabupaten Semarang. Dusun Ngaduman. Ketinggian ini membuat segala sesuatu terasa membeku, dingin yang menusuk tulang adalah hal yang biasa ditemui sehari-hari, apalagi bila musim hujan tiba, dengan angin yang senantiasa berhembus kencang, jaket tebal adalah atribut yang tidak boleh ketinggalan.

Saya tiba di Ngaduman jumat sore, atau lebih tepatnya jumat malam kemarin. Setelah menempuh perjalanan naik sepeda motor selama satu jam dari salatiga. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 saat kami melangkah masuk rumah. Rumah ini adalah rumah teman saya, tempat dulu saya pernah tinggal 3 malam untuk melaksanakan sebuah proyek dari yayasan. Hampir 3 tahun berlalu, beberapa bangunan baru sudah bermunculan, namun masih ada yang selalu sama di Ngaduman ini, kehangatan yang sama. Kehangatan itu literaly and figuratively nyata, seperti gambar ini.

Dibawah wajan itu adalah tungku yang menyala, memberikan kehangatan pada fisik yang memang telah kedinginan karena terpapar gerimis selama perjalanan. Namun bukan hanya fisik, bercengkerama di depan tungku bersama sebuah keluarga ini telah menghangatkan jiwa saya yang terasa jenuh akan hiruk pikuk kesibukan. Sebelum tidur, saya menengok belakang rumah dan terpesona oleh keindahan tata lampu kota salatiga dan sekitarnya.

Percayalah, apa yang ditangkap kamera itu tidak mampu mewakili apa yang dilihat oleh mata kepala, jauh lebih indah dan menenangkan.

Pagi-pagi, sesungguhnya saya malas bangun, dingin terasa sangat anarkis menerobos selimut yang saya pakai. Meskipun saya sudah menggulung diri saya dalam selimut, dingin itu serasa memeluk erat. Setengah enam pagi saya bangun, sebenarnya memaksa bangun karena saya harus mendapatkan  sunrise pagi itu juga. Saya memang berencana pulang sore ini, jadi hanya punya kesempatan pagi ini saja. Sambil olahraga lah, jalan beberapa ratus meter di pagi yang membeku bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Pagi ini memang saya kurang beruntung, baru sampai di spot foto, dari puncak gunung turun kabut dan gerimis, terpaksa saya berteduh sejenak. Setelah gerimis pergi, barulah saya bisa leluasa berburu matahari, yang meskipun tidak memenuhi ekspektasi, namun tidaklah mengecewakan.




Pulang dari berburu matahari, di rumah telah disambut oleh keluarga teman saya ini, lengkap dengan segelas teh panas yang manisnya kayak anak pak lurah kampung sebelah.

Selesai sarapan, berangkatlah kita ke kebun, yang jaraknya beberapa ratus meter dari rumah dan mendaki, nyampe di kebun sudah ngos-ngosan duluan. Kebun bapak ini ditanami kentang, belum ada sebulan usianya. Musim hujan dan angin yang berhembus kencang mengancam pertumbuhan kentang-kentang ini, beberapa pohon kentang yang subur daunnya terlihat patah. Sebelum hal yang sama terjadi pada yang lain, bapak Nyono (beliaulah yang rumahnya saya tinggali) harus memberikan tali-tapi penahan di sekitar batang tanaman kentang tersebut agar tidak roboh dan patah terkena hembusan angin.

Tanaman kentang yang belum diberi tali penahan

Hari beranjak siang dan matahari terasa lebih menyengat. Saya ijin pulang dulu ke rumah. Sebenernya sih enak kalau mandi trus tidur, tapi dinginnya air di bak mandi mengurungkan niat saya untuk mandi dan langsung tidur. Bangun tidur, sudah siap makan siang di meja. Opor ayam dan tumis brokoli hasil dari kebun, uh mantap benerr,, 

Hari beranjak sore, matahari sudah bersembunyi lagi. Pak Nyono kembali berangkat ke kebun melanjutkan pekerjaannya, namun sebelumnya saya hendak pamit dulu sore ini saya turun. Seperti yang sudah kuduga, beliau meminta agar  menginap semalam lagi. Sebenernya saya juga pengen pak, tapi masih ada tanggung jawab yang harus saya selesaikan, jadi saya harus pulang. Saya berencana pulang jam stengah empat sore, namun Ngaduman seakan tak mau melepas saya. Hujan tiba-tiba saja turun saat saya selesai packing. Selama menunggu hujan reda, saya bercengkerama dengan anak dan menantu pak Nyono yang sudah pulang dari kebun di depan tungku agar hangat.

Jam 4 sore hujan reda dan saya pun berpamitan. Ditemani gerimis romantis saya diantar teman saya ini kembali ke salatiga menuruni jalanan yang luar biasa rasanya. Membawa pulang kenangan baru, dan pikiran yang segar, siap untuk menjalani hari-hari kedepan, ayam api bersiaplah untuk kutaklukkan.

Time flies and returns, memory stays and never departs.


Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s