Malam Minggu Kebo #7 Warga Negara yang Baik

ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.

– John F. Kennedy-

Tanggal 15 Februari 2017, merupakan hari libur nasional, tentu saja menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seluruh warga negara Indonesia, tak terkecuali saya. Setau saya, tidak ada orang Indonesia yang tidak suka libur, berbeda dengan orang-orang Jepang yang ada sampe dipaksa libur. Boro-boro dipaksa, kalo kerasa liburnya kurang aja kita bela-belain bolos, baik itu bolos sekolah maupun bolos kerja. Namun ada yang berbeda dengan hari libur tanggal 15 Februari kemaren, karena jelas-jelas itu hari rabu, warna di kalender pas tanggal itu juga item, kok tiba-tiba ada libur nasional? Nggak ngelindur kan presiden kita?

Tentu saja presiden kita tidak ngelindur waktu mengumumkan tanggal 15 Februari sebagai hari libur nasional. Tepat di hari itu, diadakan pemilihan kepala daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Menurut informasi yang saya terima, ada 101 daerah yang serentak mengadakan pemilihan kepala daerah. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah pemilihan gubernur DKI Jakarta, padahal ada seratus daerah lain yang juga mengadakan pemilihan kepala daerah. Termasuk dari seratus itu adalah kabupaten Pati, tempat saya dilahirkan dan menjadi tempat tinggal di KTP saya, meskipun pada kenyataannya saya merantau ke kota Solo.  Jadilah saya yang merantau ini pulang kampung, untuk menjadi warga negara yang baik.

Tahun ini, di kabupaten Pati hanya memiliki calon tunggal, yang artinya harus disandingkan dengan kotak kosong sebagai lawannya. Sebelumnya saya sempat bingung, bagaimana jadinya kalo kotak kosong yang menang, apakah incumbent yang akan diperpanjang masa jabatannya? Setelah baca-baca berita, akhirnya saya mendapatkan pencerahan bahwa apabila kotak kosong yang menang, akan ada pelaksana jabatan sementara dari pemerintah untuk mengisi kekosongan kekuasaan sampai dilaksanakan pilkada kembali tahun depan. Maka sebagai warga negara yang baik, maka saya datang ke TPS dimana saya terdaftar, agak siang sih karena saya hanya ingin menjadi warga negara yang baik, bukan warga negara yang rajin. Begitu sampai di TPS, ternyata tidak ada antrian, mungkin tetangga-tetangga saya itu warga negara yang rajin, sehingga mereka nyoblos pagi-pagi dan saat saya datang sudah tidak begitu ramai. Masuk ke TPS langsung saja saya serahkan surat undangan kepada petugas, setelah mencocokkan data, saya kemudian diberikan surat suara dan menuju ke bilik suara. Karena kepo, apa sih yang tertulis di surat suara, saya liat-liat dulu surat suara di bilik suara, ngga langsung saya coblos meski saya sudah mantap dengan pilihan saya. Mau tau pilihan saya? Jangan deh, biarkan itu seperti semboyan pemilu Indonesia yang LUBER JURDIL, yaitu Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. Biar tetap rahasia ya, setidaknya enggak golput kan.

Sebagai warga negara yang memiliki hak suara, kita wajib bersuara. Apalagi orang-orang akademis, sudah bukan saatnya bertindak apatis terhadap keberlangsungan pemerintahan. Setuju atau tidak setuju harus disuarakan, karena kalo kita tidak menggunakan hak suara kita di pemilu, maka kita kehilangan hak untuk protes pada pemerintah yang terpilih. Baik yang terpilih itu calon yang kita dukung atau tidak. Kalau kita memberikan suara pada pemilu, kita memiliki hak untuk mengkritik atau memprotes kebijakan yang dilakukan oleh calon terpilih, terlepas calon itu pilihan kita atau bukan. Sekarang saatnya yang muda yang berbicara, ngga cuma koar-koar di jalan tapi juga mensukseskan kehidupan demokrasi yang baik. Hanya saja yang membuat saya sedih adalah minimalnya sosialisasi tentang pilkada kali ini. Tentu saja dengan hanya ada calon tunggal bisa membingungkan calon pemilih, baik pemilih pemula maupun pemilih usia lanjut tidak begitu update dengan informasi terbaru. Banyak warga yang tercatat golput. Dari warga yang memiliki hal pilih sejumlah 1.035.693 jiwa, hanya tercatat sebanyak 711.458 orang (68.7%) yang datang ke TPS dan memberikan suara, sedangkan 324.235 sisanya (31.3%) tidak menggunakan hak suaranya. Dari 711.458 orang yang memberikan hak pilihnya, tercatat ada 15.194 suara yang tidak sah atau sebesar 2,1% dari total suara yang masuk. Hal ini patut menjadi catatan tersendiri bagi KPU sebagai penyelenggara pemilihan kepala daerah. Sosialisasi sebaiknya tidak hanya dilakukan oleh KPU, tapi juga semua organisasi masyarakat yang lebih banyak turun di masyarakat akar rumput, terutama apabila ada hal-hal baru seperti calon tunggal.

Ada beberapa orang yang memiliki anggapan bahwa apapun hasil pilkada masih akan sama. Ada orang lain yang belum mengetahui bahwa kalau mereka tidak setuju atau menolak calon nomor satu mereka bisa memilih kotak kosong atau calon nomer dua, sehingga tidak harus golput. Oleh sebab itu saya melihat di gambar yang dipost oleh kawan saya, bunyi tulisannya begini “Jangan GOLPUT, tapi pilih kotak kosong boleh.” Maka dari itu, sosialisasi dan komunikasi penting untuk mensukseskan kehidupan demokrasi yang baik ini. Semoga di tahun-tahun mendatang sudah ada perbaikan sosialisasi dan komunikasi menjelang pilkada. Doakan saja, 5 tahun lagi saya sudah siap, jadi kalau ternyata hanya ada satu pasangan calon yang diusung, saya bisa mendampingi di surat suara, biar tidak membingungkan seperti pilkdada tahun ini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s